damaiduniaku

kedamaian akan menunjukkan dirinya pada dunia..... Sambut dan berdamailah dengannya....

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Jakarta, Jakarta, Indonesia

Seorang Anak Manusia yang mencari jati dirinya...

Senin, 07 September 2009

Filsafat Idealisme

Filsafat Idealisme

Abstraksi.
Manusia adalah makhluk yang sungguh ideal. Dalam tubuh materialnya terdapat sisi mental dan spiritual yang sangat tinggi. Hal ini menjadikan manusia sebagai pribadi yang mempunyai arti dan harga diri, dimana manusia mempunyai nilai, dan lebih tinggi daripada alam materi dan makluk lainnya. Pandangan idealisme pada diri manusia muncul dari renungan murni seorang filsuf yang dikembangkan oleh pandangan para filsuf idealis selanjutnya.
Berawal dari Plato yang menyatakan pandangan idealnya bahwa “ide adalah esensi yang transenden yang melatari setiap realitas yang ada diluar, sehingga ide menjadi realitas yang sangat fundamental”. Pandangan ini tentu telah memberikan inspirasi kepada filsuf idealis selanjutnya. Bahkan idealisme ini telah hidup dan berkembang di Barat dan Timur selama berabad-abad. Idealisme transenden ala Plato telah sangat berkembang di Timur, dan di Barat, idealisme ini telah tertransformasi ke dalam bentuknya yang lebih menekankan pada person (antropomorphisme). Hal ini terjadi dalam lingkup perdebatan pemikiran yang berbeda diantara keduanya. Terutama di Barat, pemikiran rasionalitas terasa lebih hidup, kemudian dilanjutkan dengan corak empirisisme.
Perdebatan-perdebatan filosofis ini pada tahap tertentu telah memunculkan era baru bagi kalangan idealisme. Di awali oleh Berkeley dengan pandangan idealisme subjektifnya yang menekankan bahwa keberadaan ide harus bersandar pada akal. Kemudian idealisme ini dilanjutkan oleh Kant dengan transenden idealisme yang melihat bahwa ide adalah sesuatu pikiran yang transenden dalam diri kita. Dan pada tahap berikutnya, Hegel berusaha melakukan sintesis terhadap dua kecenderungan antara subjektif dan objektif idealisme, dan pada akhirnya memunculkan pandangan absolut idealisme. Menurutnya, realitas dunia adalah refleksi dari sebuah pikiran dimana segala sesuatu dinisbahkan pada ide dan maksud-maksud dari suaatu akal yang mutlak. Mungkin pandangan ini seakan kembali pada idealisme ala Plato, akan tetapi Hegel telah mengembangkannya pada taraf pemikiran tentang hakekat alam dalam realitas yang lebih absolut sebagai sebuah ide. Menurutnya Ide adalah esensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobjektifkan. Alam adalah akal yang mutlak yang memngekpresikan dirinya dalam bentuk luar.

Pendahuluan
Kata idealis sering kita dengar atau bahkan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kata idealis dalam filsafat mempunyai arti yang sangat berbeda dari artinya dalam bahasa sehari-hari. Secara umum, kata itu dapat kita artikan ketika seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika dan agama serta menghayatinya. Kata idealis disini dapat dipakai sebagai pujian atau cemoohan kepada seseorang yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang dipandang orang lain tidak mungkin dicapai.
Arti filosofis dari kata idealisme akan lebih dekat dengan kata ide dari pada kata ideal. Mungkin seorang idealis akan mengatakan bahwa kata-kata idea’ism adalah lebih tepat daripada “idealism”. Dengan ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa dan bukan benda material. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih awal ada daripada materi. Jika materialisme mengatakan bahwa materi adalah riil dan akal adalah fenomena yang menyertainya, maka idealisme mengatakan bahwa akal itulah yang riil dan materi adalah produk sampingannya. (HM. Rasyidi. 1984: 318) Dengan begitu maka idealisme mengandung penolakan bahwa dunia ini sebagai realitas yang sesungguhnya, akan tetapi ide-lah yang lebih esensial dan fundamental.
Dalam perkembangannya, idealisme menjadi suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat berhubungan dengan ide, pikiran atau jiwa. Dunia mempunyai arti yang berlainan dari apa yang nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan ditafsirkan oleh penyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran, dan tidak hanya oleh metode ilmu objektif semata-mata.
Kecenderungan-kecenderungan pemikiran idealisme ini lebih banyak muncul dan berkembang di belahan dunia Barat yang dimulai dengan masa pencerahan dan renaissance. Perdebatan-perdebatan filosofis telah muncul ke permukaan sebagai aliran rasionalisme dan juga empirisisme yang keduanya pada tahap tertentu telah memunculkan pandangan idealisme. Di awali oleh Berkeley dengan pandangan idealisme subjektifnya yang menekankan bahwa keberadaan ide harus bersandar pada akal kita. Kemudian idealisme ini dilanjutkan oleh Kant dengan transenden idealisme yang melihat bahwa ide adalah suatu pikiran yang transenden yang ada dalam diri kita, melalui gagasan dan ide. Dan pada tahap berikutnya, dengan dialektikanya, Hegel berusaha melakukan sintesis antara subjektif dan objektif idealisme, dan pada akhirnya memunculkan pandangan idealisme absolut. Menurutnya, realitas dunia adalah refleksi dari sebuah pikiran dimana segala sesuatu dinisbahkan pada ide dan maksud-maksud dari suatu akal yang mutlak.
Itulah beberapa statement awal yang saya ambil dari tema makalah kali ini. Ketiga tokoh idealis ini memiliki kecenderungan yang berbeda-beda didalam menafsirkan apa itu idealisme dalam mengartikan ide, pikiran, jiwa dan juga realitas alam diluar manusia. Akan tetapi disini saya akan berusaha untuk menggali lebih dalam sisi idealisme dari ketiga tokoh sentral diatas. Dalam usaha ini, saya akan berusaha membandingkan ketiganya dalam genre pemikiran idealisme sendiri, dan mungkin akan ada perbandingan ataupun kritik dari kalangan diluar idealis, seperti realis yang begitu frontal mengkritik pandangan idealisme.
Untuk mempermudah penyajian makalah, maka saya akan mencoba menemukan satu-persatu pemikiran idealisme mereka masing-masing, dalam beberapa tema pokok, mengenai pikiran itu sendiri, tentang alam, dan tentang Tuhan, tentu dengan berbagai argumen yang mereka bangun. Setelah itu, sangat penting untuk mengemukakan berbagai kritik yang bermunculan ketika pemikirannya tumbuh dan berkembang dalam sejarah intelektual dan pemikiran filosofis. Dan yang terakhir, sebagai kesimpulan, pemakalah akan berusaha memberikan sebuah pandangan tentang idealisme ketiga tokoh tersebut.

A. Idealisme Subjektif Georege Berkeley
Idealis pertama dalam pengertian modern adalah Berkeley yang pada abad 18 telah menolak eksistensi independent benda-benda.1 Walaupun sebelumnya, kecenderungan ini telah ada dalam “keraguan Descartes” tentang dunia fisik, sehingga memunculkan apa yang disebut dengan rasionalisme. Akan tetapi berbeda dengan Berkeley, yang mungkin posisinya dantara rasionalisme dan empirsme, mengatakan bahwa dia mengakui realitas materi yang ada adalah sebagai apa yang kita pikirakan. Untuk itulah selain disebut idealis, ia juga sering disebut dengan immateralism. Hal itu tampak dalam keyakinannya bahwa dunia material tidak dapat memiliki realitas independen dari pikiran kita, kecuali dengan mempersepsi dunia luar yang kita lihat melalui indera kita. Menurutnya, jika pohon hanya kumpulan sensasi dan ide, konsep dari “kepohonan” adalah terbebas dari pohon itu sendiri sebagai hasil dari proses sensasi selanjutnya. Untuk itulah Berkeley lebih menekankan pada pandangan subjektifnya terhadap dunia fisik, dimana menurutnya materi adalah sebagaimana yang dipahami (dipersepsi) manusia.
Beberapa argument Berkeley dalam idealisme subjektifnya terlihat dalam pandangannya tentang pikiran (knowledge). Dalam hal ini ia meyakini bahwa; Pertama; apa yang diketahui haruslah ‘ada di dalam pikiran” atau berhubungan dengan pikiran (mind). Kedua; Kita tidak dapat mengatakan secara positif bahwa materi yang dipahami berada bebas dari pemahaman, dan Ketiga adalah sifat objek fisik selalu bergantung pada pengalaman dan pikiran. 2
Ketiga pendapat ini nampak dalam kedekatannya dengan pandangannya sebagai seorang empiris. Dimana dia berpendapat bahwa ide dihasilkan didalam pikiran dengan sesuatu yang kita terima (kita cerap). Berkeley setuju bahwa ide harus di dalam pikiran, tetapi dia meolak bahwa mereka dapat dihasilkan dari sesuatu yang material diluar kita. Menurut Berkeley, kita tidak dapat mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang fisik kecuali dengan jalan ide, dan disini kita dapat mempunyai pengetahuan yang bebas tentang sesuatu dan itu adalah bagian dari ide itu sendiri. Ketika dengan mempersepsi, kita mempunyai alasan untuk percaya bahwa hanya dengan apa yang kita cerap maka semua persepsi yang ada dalam ide, dapat kita percayai sebagai kebenaran didalam keberadaanya. Tetapi kita tidak punya pembenaran untuk mempercayai adanya subtansi materi berada dibelakang ide tersebut. Tentang keberadaan ide, Berkeley berpikir bahwa materi itu ada jika kita persepsi atau kita dicerap. Inilah yang kemudian dikenal dengan teori, esse is percipi. Adalah benar dengan definisi bahwa ide eksis (ada) jika itu kita persepsi cerap, dan disana tidak selalu sesuatu yang subtansinya materi.

A.1 Idealisme Berkeley dalam pandangan Ketuhanan
Idealisme subjektif ala Berkeley terlihat telah mengisyaratkan akan keunggulan pikiran melalui tubuh. Dan secara tidak langsung hal ini terlihat seakan meninggalkan idealisme Ketuhanan, yang menegaskan bahwa Tuhan adalah sebagai yang paling mendasar, realitas absolut. Akankah demikian?. Berkeley seperti kita ketahui adalah seorang yang sangat percaya kepada Tuhan. Bagaimana dia menjawab pertentangan argument tersebut. Hal itu akan terlihat dalam pendapatnya tentang keberadaan Tuhan.
Sejak awal dia percaya bahwa dunia material tidak mungkin memiliki keberadaan independen kecuali dalam pikiran (subjektif idealisme), atau di dalam prosesnya. Lebih jauh lagi hal ini mengisyaratkan bahwa realitas manusia dan nilai-nilai tujuan atau dasar dari realitas alam hanya ada dalam pikiran. Inilah yang menjadi tujuan idealisme subjektif, bahwa konsep dari realitas lebih ditentukan oleh pikiran dari pada dunia material itu sendiri. Idealis seperti Berkeley akan menekankan bahwa ada sebuah kesatuan organik untuk dunia yang lebih dari sekadar sebuah mesin yang dijalankan oleh Tuhan. Dari sini saya melihat bahwa Berkeley disatu sisi mempercayai ide sebagai proses atau capaian persepsi benda material, dan disisi lain ia juga melihat Tuhan berperan dalam memberikan kebebasan.
Tuhan dipandang Berkeley sebagai suatu subtansi yang independent dan terbebas dari pikiran itu sendiri dalam diri manusia. Dia percaya bahwa subtansi material tergantung pada kebebasan kita dalam mempersepsi sesuatu, adalah dapat dipikirkan. Jika dibandingkan dengan Leibniz dalam konsep monadologinya, Leibniz berpendapat bahwa materi adalah terkomposisi, dibuat dari sesuatu persepsi yang tidak terkomposisi, sebuah kesatuan kekuatan, yang disebutnya dengan monad. Menurutnya, monad-monad ini, masing-masing unik dimana sebagai sudut pandang atau perspektif di alam semesta, monad-monad ini bertingkat ke dalam tubuh, monad jiwa, dan monad Allah, subtansi spiritual yang tertinggi. Walaupun unik, monads ini adalah terbebas dan dalam bentuk yang harmony dalam diri mereka sendiri. Dibandingkan dengan Berkeley, idealisme yang berbasis empiris, “yang kita tahu adalah apa yang kita rasa” mengisyaratkan akan keberadaan Allah berbeda dengan kedudukan monad sebagaimana Leibniz. Tuhan dipandang Berkeley sebagai spirit yang tidak mempunyai ide tentang Tuhan, tetapi kita dapat memahami apa yang kita maksud dengan Tuhan.
Hal ini dapat kita lihat pandangannya tentang spirit dan juga ide yang terbentuk tanpa kontak langsung dengan dunia luar, seperti imaginasi. Menurut Berkeley ide tidak selalu berkaitan dengan sesuatu. Kita melihat bahwa beberapa ide, yang kita namakan imaginasi adalah subjek untuk kehendak kita, dan disini mungkin dapat dikatakan untuk menjadi ide, maka itu dihasilkan kita. Untuk itu kita dapat melihat pemikiran Berkeley bahwa ide dihasilkan oleh pikiran atau spirit dimana spirit itulah yang kita bangun. Ide dari persepsi, tidak dihasilkan oleh diri kita, tetapi harus dihasilkan didalam pikiran kita dengan beberapa spirit lainnya, yaitu Tuhan. Spirit adalah satu-satunya sumber ide, dimana mereka satu-satunya sesuatu yang aktif. Ide selalu dicatat, menjadi pasif karena definisi. Tetapi menurutnya kita tidak mempunyai ide tantang Spirit (Tuhan) tetapi kita mempunyai beberapa pandangan tentang mereka, dimana kita dapat memahami apa yang kita maksud dengan kata Spirit itu dan karena kita mengetahui bahwa kita adalah sumber dari beberapa ide (Principles, 140)

B. Idealisme Transendental Kant
Sejarah filsafat adalah sejarah pertarungan akal dan hati (iman) dalam berebut dominasi mengendalikan jalan hidup manusia. Terkadang akal menang dan kadang juga iman yang menang mutlak. Akan tetapi yang terpenting adalah mendudukan keduanya pada dominasi yang seimbang. Keseimbangan akal dan hati ini telah dibuktikan dalam sejarah filosofis dengan beberapa tokoh utamanya.3 Salah satunya adalah Imanuel Kant yang berhasil menghentikan sofisme modern untuk menundukkan kembali akal dan iman pada kedudukan masing-masing. Pandangan ini muncul sebagai sebuah idealisme transenden yang kemunculannya tidak terlepas dari situasi dan kondisi perdebatan filosofis pada zamannya.
Diawali dengan idealisme Berkeley, pada abad yang sama telah muncul tipe idealisme yang berbeda melalui seorang Immanuel Kant (1724-1804). Pemikiran Kant muncul sebagai pemicu wisata intelektual yang paling berpengaruh dalam filsafat. Konsep idealismenya didasarkan pada pemikirannya yang rapi dan terarah. Dalam hal ini, Kant mengembangkan dualisme, dimana dia mempercayai keberadaan realitas eksternal, akan tetapi disisi lain dia berpendapat bahwa pikiran memberikan keunggulan dalam memahami itu. Lebih khusus lagi, ia berpendapat bahwa baik pikiran itu sendiri maupun pancaindera dengan sendirinya akan menghasilkan pengetahuan.
Menurutnya apa yang kita dapatkan melalui indera, sebenarnya kita sendirilah yang menentukan keberadaannya sebagai sebuah pikiran (ide) atau hanya sekedar sensasi. Untuk itulah pemikiran kosong dengan sendirinya, tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang diri kita sendiri atau kenyataan. Untuk lebih gamblang, Kant menjelaskan bahwa persepsi harus didasari dengan pengetahuan a priori; sebuah intuisi, serta adanya konsep ruang dan waktu dan juga sebab dan akibat. Dan karena alasan itulah kita harus menggunakan indera. Selain itu, karena asumsi bahwa realitas ada di luar pikiran, maka Kant mengatakan bahwa perlu adanya pembagian kategori pada objek realitas tersebut. 4
Karena terdapat hubungan yang sangat khusus (intim) antara akal dan pancaindera, antara pikiran dan tubuh, “pikiran” dianggap Kant sebagai suatu kegiatan. Membawa kita ke realitas kategori “pengertian”, dan tidak hanya mencerminkan realitas atau cermin dengan pikiran kita, dan bukan hanya prasangka sebagaimana argumentasi Descartes. Namun, sesuai keterbatasan yang disusun oleh sebuah kategori a-priori ini, kita belajar dari kenyataan. Kita dapat meningkatkan pengetahuan kita melalui eksperimentasi dan tes. Dengan demikian untuk mendapatkan pengetahuan kita harus dapat mencari, dan belajar. Kita harus memiliki kebebasan. Karena sifat moral, Pendapat Kant bahwa determinisme materialistis merupakan rantai alasan yang menyebabkan fisik dan kepalsuan hukum.
Menurut Kant, pengetahuan yang mutlak benarnya memang tidak akan ada bila seluruh pengetahuan datang melalui indra. Akan tetapi bila pengetahuan ini datang dari luar melalui akal murni, yang tidak bergantung pada pengalaman, bahkan tidak bergantung pada indra, yang kebenarannya a-priori, maka menurutnya dari sinilah kita mendapatkan pengetahuan yang mutlak yang dapat dipegang kebenarannya, bahkan menjadi pengetahuan yang absolut. Disinilah letak transenden idealismenya Kant, jika kita lihat lebih jauh maka pendapatnya ini mengisyaratkan akan adanya objektifitas dalam diri objek, walaupun manusia tidak mampu untuk mendapatkannya hanya dengan pancaindra, dan hal tersebut hanya dapat dimengerti oleh akal murni, dengan kategori kategori a-priori.

B.1 Pandangan Metafisika
Sebelum lebih jauh membicarakan tentang Tuhan, Kant memulainya perenungan filosofisnya dengan mempertanyakan apakah ada yang dapat diketahui seandainya seluruh benda dan indra dibuang. Di sinilah buku Critique of Pure Reason berbicara, dimulai dengan serara rinci membahas cara manusia berpikir, tentang asal usul terbentuknya konsep, dan tentang struktur jiwa manusia. Menurutnya kesemuanya itu adalah pembicaran metafisika akal murni. Menurutnya, pengalaman hanya mengatakan kepada kita apa-nya dan bukan apa ia sesungguhnya. Disnini Kant mulai memperlihatkan apa yang diperjuangkannya; kebenaran umum harus bebas dan pengalaman harus jelas dan pasti dengan sendirinya (Durant, 1965 : 256) Disinilah apa yang kemudian disebutnya dengan kebenaran yang a-priori. Dan kebenaran itu kita peroleh melalui struktur jiwa kita yang inheren. Dari sini kita lihat idealisme transendenal yang ditunjukkan Kant, karena mungkin dia sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang idealis transendent.
Usaha untuk menjelaskan sebuah jiwa yang inheren inilah, yang akan kita lihat sebagai pandangan metafisikanya yang lebih jelas melalui filosofi transendenal, Menurutnya, ada pengetahuan yang transenden, yaitu pengetahuan yang tidak banyak berisi objek, akan tetapi lebih banyak berisi konsep objek yang a-priori. Lebih lanjut, Kant menjelaskan proses masuknya pengetahuan a-priori ini dengan istilah estetika transenden dimana proses mengkoordinasikan sensasi-sensasi dengan acuan persepsi ruang dan waktu dan logika transenden, dimana mengkoordnasi persepsi-persepsi yang sudah masuk dalam konsep ruang dan waktu dengan memasukkannya dalam kategori pemikiran.5
Menurutnya, konsep ruang dan waktu adalah sebuah pengetahuan a-priori, Kant tidak pernah menolak eksistensi materi, dan tidak juga menolak ide. Ia hanya menyatakan bahwa kita tidak pernah mengetahui dengan pasti ide itu, dunia luar itu, selain dunia luar ide itu ada. Menurutnya pengetahuan kita tentang dunia luar itu hanyalah mengenai penampakannya, fenomenanya, dan pengindraan kita tentangnya. Dari pendapatnya itu, terlihat Kant bukan seorang empiris dan juga bukan rasionalis. Kant berada diantara keduanya. Kemudian yang menjadi menarik dalam pandangan Kant adalah, dia memisahkan antara fenomena dan noumena. Menurutnya pengetahuan kita tentang fenomena saja adalah sesuatu yang naïf, sedangkan tentang noumena kita tidak mengetahui sama sekali. 6
Tentu pendapat metafisika tidak sesederhana itu, ini merupakan sebuah jawaban untuk menyelamatkan sains, bahwa sains dapat dipegang hanya sebatas penampakan objek. Kesimpulannya adalah indra hanya mengetahui penampakan, dan ia dapat dipegang bila dasar-dasarnya a-priori. Dan menurutnya dasar-dasar a-priori tersebut ada pada sains. Dan lebih jauh, lewat The Critique of Pure Reason, ia berusaha menyelamatkan keyakinannya, maupun idealismenya. Dia menyatakan bahwa indra terbatas, sehingga sains dan akal tidak mampu menembus noumena dan objek-objek keyakinan. Dari sinilah dia menawarkan apa yang disebutnya Moral, menurutnya moral adalah kata hati, suara hati, persaan dan yang terpenting adalah suatu prinsip yang a-priori dan absoulut (lihat Durant, 1959 ;276).

B.2 Pandangan Kant tentang Keberadaan Tuhan
Setelah kita melihat pandangannya tentang metafisika, dan moralitas, terlihat dia ingin memberitahu akan keabsolutan dari moralitas itu sendiri. Inilah awal fondasinya dalam memahami realitas absolut, walaupun untuk sementara itu dipahami dalam diri manusia. Karena menurut saya, dari pandangan Kant tentang moral inilah yang memuncullkan pandangan tentang Keberadaan Tuhan. Sebelum membahas Tuhan, dia menyatakan bahwa moral inilah yang nantinya memunculkan sebuah kata hati yang memberi perintah (mempertimbangkan ide) dan inilah yang disebut Kant sebagai Kategori Imperatif, sebuah perintah tanpa syarat yang ada dalam kesadaran kita.
Dari moral inilah Kant berusaha membawa manusia menuju sebuah kesadaran akan adanya realitas yang mampu memhami nomena, sebuah spirit transenden yang dapat melihat setiap fenomena dan menemukan apa yang dibaliknya sebagai sebuah kebenaran, ataupun nomena. Terutama dalam ranah agama yang menuntut keyakinan dan kebenaran. Disinilah Kant mengisyaratkan adanya Tuhan, dalam keyakinan agama, sebagai sesuatu yang transenden dan merupakan akal murni ataupun yang memberikan pengetahuan a-priori sebagai sumber pengetahuan yang dapat dipertanggungjwabkan kebenarannya dalam mendapatkan pengetahuan.
Kesadaran inilah yang akan membawa kita kedalam sebuah perbuatan baik secara moral dan juga kebenaran dalam sebuah pengetahuan yang didapat manusia. “Sekalipun kita tidak dapat membuktikan dengan akal teoritis, kita dapat merasakan bahwa kita mati pada suatu ketika”. Inilah sebuah ungkapan Kant yang menunjukkan akan kebenaran ide pada dirinya sendiri dan juga diterima atau paling tidak dirasakan setiap manusia yang hidup. Dengan cara seperti itu juga Kant ingin membuktikan akan keberadaan Tuhan. Bila kita sadar akan kematian, ataupun tugas dalam kehidupan ini sebelum kematian, maka imortalitas (kabadian) jiwa dan adanya Tuha dapat ditegakkan. Ini semua tidak dapat dibuktikan dengan akal teoritis, dan hanya pengalaman moral-lah yang dapat berbicara. Akal teoritis hanya bekerja pda daerah pengalaman empiris, daerah indra, dan daerah fenomena. Menurutnya akal teoritis tidak pernah melarang kita mempercayai thing it-self dan mempercayai adanya Tuhan.Kesadaran moral kita yang memerintahkan untuk mempercayaiNya. Rosseau benar tatkala ia berkata bahwa diatas akal logis dikepala, ada perasaan di hati. Pascal benar tatkala ia menyatakan bahwa hati mempunyai akal miliknya sendiri yang tidak pernah dapat memahami oleh akal teoritis (Durant, 1959 :278)7
Berbeda dengan kalangan teolog dan rasionalisme agama, Kant menganggap bahwa akal murni (pure reason) memiliki keterbatasan dalam memahami Tuhan.Menurutnya argumen-argumen akliyah tentang adanya Tuhan, tentang objek ghaib dan metarasional tidak dapat dipegang kebenarannya. Jika akal memasuki ranah ini maka akal akan tersesat dalam paralogisme. Inilah pendirian Kant, ia berulangkali mengisyaratkan akan perkataan hati. Kesimppulan dari pendangannya ini adalah akal dan iman harus mendapat porsi yang sama kuat dalam mengendalikan jalan kehidupan manusia. Disini juga dapat kita lihat sisi transenden idealisme Kant, dimana idealismenya berada dalam dua genre sumber pengetahuan utama, yaitu akal dan hati.
Akan tetapi, berbagai kritik bermunculan, sebagaimana penglihatan saya dalam pernyataan Kant sebelumya bahwa, ruang dan waktu adalah sesuatu yang a-priori, sehingga Kant terjebak dalam kebimbangan subjektifitas dan objektifitas ruang dan waktu. Kant ragu dalam membuktikan subjektifitas ruang karena itu akan ditolak kalangan materialisme, dan disisi lain Ia juga ragu untuk membuktikan objektifitas ruang, karena Tuhan akan berada di dalam ruang, Akibatnya Tuhan menjadi spasial, meruang dan memateri. Disinilah Kant lebih senang mengambil filsafat idealisme kritis yang menyatakan bahwa seluruh realitas diketahui terutama sebagai sensasi dan ide.
Walaupun boleh dikatakan Kant telah berhasil merumuskan idealisme transenden-nya dalam sebuah bangunan filsafat yang kompleks, Kant masih terlihat ragu-ragu dalam melihat dasar yang dipakainya sendiri dalam sebuah pengetahuan, yaitu pengetahuan a-priori. Walaupun dia sangat menekankan pengetahuan a-priori tersebut, saya melihat Kant kurang berhasil dalam menunjukkan bagaimana dan mengapa pengetahuan a-priori tersebut dapat ada dalam diri manusia dan bagaimana Kant memastikan kebenarannya. Walaupun perlu diakui bahwa dia telah menunjukkan adanya kategori-kategori imperatif yang memang hal tersebut dapat diketahui tanpa objek materi diluar.
Akan tetapi kalau kita lihat dari argumennya tentang moral yang seakan menjadi obat mujarab bagi kegelisahan konsep a-priori maupun akal praktis, saya melihat Kant terjatuh pada idealisme “antara” dan tidak berani mengambil sikap apakah relatif subjektif ataukah absolut objektif. Dia seakan terkungkung akan ketakutan pada kesalahan dalam pandangannya, sehingga ia seakan terfokus pada masalah antropomorfisme dan kurang melebarkan pemikrannya ke ranah yang lebih luas, tentang alam sebagai realitas lain selain Tuhan dan Manusia. Sebagaimana filsuf Idealis selanjutnya seperti Hegel yang akan kita lihat selanjutnya. Tetapi bagaimanapun juga kita berusaha memahami apa yang dimaksudkannya dengan idealisme transenden dan nampak Kant telah sangat apik merumuskan pandangannya.

C. Idealisme Absolut Hegel
Idealisme Jerman memuncak pada Hegel, dialah seorang filsuf terakhir barat yang mempunyai bangunan filosofis yang utuh, dan hampir filsuf setelahnya hanya mengembangkan beberapa bagian saja dari isu-isu filosofis. Mungkin istilah yang paling kita kenal dari Hegel adalah dialektikanya. Akan tetapi yang menjadi fokus makalah kali ini adalah tentang idealismenya, yaitu idealisme absolut. Apakah hubungan dialektika dengan idealismenya, tentu ini sangat berhubungan dalam sebuah bagunan filosofis yang komplit
Sebagai seorang filsuf yang berkembang pada masa romantisme, sebagaimana telah diaawali Kant. Oleh karenanya, banyak pikirannya dipengaruhi Kant. Tetapi ia tidak pernah menjadi pengikut Kant, perbedaan diantara keduanya lebih besar daripada perbedaan Plato dan Aristoteles. Hegel tidak akan menemukan metode dialektikanya tanpa memulainya dari dalektika transendenal yang dikembangkan oleh Kant dalam Critique of Pure Reason. Sekalipun demikian, filsafat Hegel amat berbeda dengan filsafat Kant, terutama tentang keterbatasan akal dan pandangan tentang spirit (ruh) (Ahmad Tafsir. 2000 : 152). 8
Berbeda dengan Kant, yang dalam posisi transenden, Hegel berusaha melakukan sintesis terhadap dua kecenderungan antara subjektif dan objektif idealisme, dan pada akhirnya memunculkan pandangan absolut idealisme. Menurutnya, realitas dunia adalah refleksi dari sebuah pikiran dimana segala sesuatu dinisbahkan pada ide dan maksud-maksud dari suaatu akal yang mutlak. Mungkin pandangan ini seakan kembali pada idealisme ala Plato, akan tetapi Hegel telah mengembangkannya pada taraf pemikiran tentang hakekat alam dalam realitas yang lebih absolut sebagai sebuah ide. Menurutnya Ide adalah esensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobjektifkan. Alam adalah akal yang mutlak yang memngekpresikan dirinya dalam bentuk luar. Inilah yang benar-benar membedakannya dirinya dengan Kant, pandangannya tentang alam sebagai sesuatu yang absolut.
. Untuk mengetahui bagaimana idealisme absolutnya Hegel berbicara, kita dapat melihatnya dari pandangan metafisikanya dan juga nantinya pandangannya tentang alam. Bagian metafisikanya dimulai dari pembahasan tentang rasio. Hegel sangat mementingkan rasio ataupun pikiran. Hal ini menunjukkan dia sebagai seoarang yang sangat idealis. Menurutnya, pikiran yang dimaksudnya bukan hanya pada manusia perorangan, tetapi adalah sebuah rasio atau pikiran pada subjek yang absolut, karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realitas seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu objek. Dalil Hegel yang kebudian terkenal berbunyi;
“Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real” Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran dan ide yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel bahwa seluruh realitas adalah spirit yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan pikiran, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual dan pada saat yang sama mencurigai rasio dengan mengutamakan perasaan.
Terkadang ada pemikiran bahwa istilah dialektika, hampir sama dengan Hegel itu sendiri. Padahal dialektika ini bukan satu-satunya filsafat Hegel, karena kita tahu dia adalah filsuf yang mempunyai bangunan filosofis yang lengkap. Untuk menjelaskan filsafatnya, Hegel menggunakan dialektika sebagai metode. Namun, dialektika itu bukanlah sekedar digunakan untuk menjelaskan sesuatu, akan tetapi menurutnya dalam realitas itu sendiri berlangsung dialektika. Menurut Hegel, yang dimaksud dengan dialektika adalah mendamaikan dan mengkompromikan hal-hal yang berlawanan (Bertens, 1979: 68) Proses dialektika selalu terdiri dari tiga fase yaitu tesis, antitesis dan sintesis. Sejara singkat dapat saya katakana bahwa dialektika adalah sebagaimana Hegel melihat pandangan subjektifitas disatu sisi sebagai tesis, dan pandangan objektifitas disisi yang lain sebagai anti tesis, dan kemudian menemukan diantara keduanya dengan sintesis dan menghasilkan sebuah teori yang menurutnya adalah absolut, dan nantinya disebut dengan idealisme absolut.

C.1 Pemikiran-pemikiran IdealismeAbsolut Hegel
Setelah kita telah mengidentifikasi teori realitas Hegel dan metafisiknya dan juga metode dialektikanya. Seperti yang kita lihat, idealisme merupakan suatu nama jenis teori metafisika yang mengakui bahwa realitas adalah rasional, logis, dan spiritual. Idealisme Absoulut Hegel nampak dalam pandangan berikut;9
Realitas sebagai totalitas kebenaran konseptual. Bahwa realitas bersifat rasional, suatu totalitas konseptual; bahwa realitas merupakan suatu pemikiran yang absolut atau pemikiran Tuhan, suatu struktur terpadu dan total dari kebenaran konseptual. Konsekuensi dari pandangan ini adalah pendapat bahwa Realitas sebagai pemikiran Absolut. Untuk Hegel, realitas adalah pemikiran absolut, berisikan totalitas kebenaran konseptual, yang membuka diri diseluruh area pengalaman manusia dan pengetahuan dari logika samapi fisika hingga biologi, dari sejarah dan politik hingga seni, agama dan filsafat.
“Kenyataan adalah hal rasional dan hal rasional adalah merupakan kenyataan” Sebagaimana Plato, Hegel mengakui bahwa rasionalitas, konsep dan ide adalah suatu yang nyata. Hegel memenuhi visi absolutnya dengan kaya ragam dan detail konkrit mengenai jiwa absolut, mengenai Tuhan yang merupakan realitas total, dan kebenaran yang memebuka diri pada pemikiran terbatas kita di setiap area pengetahuan manusia.
Jika dibandingkan dengan pendahulunya, Hegel nampak lebih membuka diri untuk menerima ketidak terbatasan pikiran manusia. Kemudian dia berpendapat bahwa Rasional adalah keberadaan objek yang “dipahami lebih mendalam lagi” Yang menjadi pertanyaan dari pernyataan Hegel adalah apakah hanya rasionalitas yang dapat dikategorikan kenyataan konseptual?. Idealisme Absolut mengakui keberadaaan untuk menemukan rasionalitas, kebenaran konsep yang merupakan intinya. Inilah yang memebedakannya dengan idealisme Plato. Bagi Plato, ide-ide abadi berada secara terpisah dan mandiri dalam bidang yang bisa dimengerti mereka sendiri dalam perubahan yang secara terus menerus. Hal ini menunjukkan ketidak jelasan dalam pemisahan tersebut, dan Hegel menjelaskannya bahwa konsep rasional tidak memiliki pemisahan, keberadaan mandiri berbeda dari hal-hal duniawi. Konkret tetapi merupakan inti rasional mereka. .
Inilah arti realitas bagi Hegel. Realitas merupakan kebenran menyeluruh yang ditangkap oleh ide rasional kita. Realitas merupakan kebenaran absoulut, juga totalitas dan penggabungan dari semua bagian kebenaran termasuk kebenaran terbatas. Realitas yang secara baik dimengerti adalah totalitas kebenaran pemikiran absolut. Dan keyakinannnya tersebut didapatkan dengan metode dialektika sebelumnya. Bagaimana dia mensintesiskan antara idealisme subjektif dan idealisme objektif yang sama-sama meiliki keterbatasan dan kekurangan (kelemahan).

C. 1 Absolut Idealisme Hegel pada Alam dan Pandangan Metafisika
Setelah kita melihat sisi-sisi idealisme absolut Hegel, yang dirasa penting diungkap disini adalah pandangannya tentang alam. Menurut Hegel, Natur atau alam yang objektif adalah riil dalam arti bahwa ia ada dan menuntut perhatian dari dan penyesuaian diri dari kita. Mekipun begitu alam tidak dapat berdiri sendiri, karena alam yang objektif bergantung, sampai batas tertentu, kepada mind (jiwa, akal). Kaum idealis seperti Hegel, percaya bahwa manifestasi alam yang lebih dahulu dan lebih tinggi adalah lebih penting dalam menunjukkan sifat-sifat prosesnya darpada menifestasi yang lebih dahulu dan lebih rendah.
Kemudian Hegel juga menekankan akan adanya kesatuan organik dari proses dunia. Menurutnya keseluruhan dan bagian-bagiannya tidak dapat dipisahkan kecuali dengan menggunakan abstraksi yang “membahayakan”, yakni yang memusatkan perhatian terhadap aspek-aspek tertentu dari benda dengan mengesampingkan aspek-aspek lainnya yang juga penting. Menurut sebagian dari kelompok idealis, terdapat kesatuan yang dalam, suatu rangkaian tingkatan yang mengungkapkan, dari materi melalui bentuk tumbuh-tumbuhan kemudian melaui bentuk binatang hingga sampai kepada manusia, akal dan jiwa. Dengan begitu maka prinsip idealisme yang pokok adalah kesatuan organik. Kaum idealis condong untuk menekankan teori koherensi atau konsistens dari percobaan kebenaran, yakni suatu putusan akan benar jika ia sesuai dengan putusan-putusan lain yang telah diterima sebagai yang benar.10
Hal ini sangat bersesuaian dengan pandangan kesatuan dalam keberagaman dalm pemikiran bahwa Pemikiran absolut sebagai satu kesatuan dalam keberagaman. Pemikiran absolut merupakan suatu totalitas yang disatukan dari seluruh kebenaran rasional, bahkan merupakan penyatuan keberagaman dalam suatu kesatuan yang koheren. Pikiran yang absolut menurut Hegel adalah suatu kesatuan dalam keberagaman, satu istilah untuk mewakili perbedaan perbedaan, satu nama yang mencakup segalanya. Pandangan Metafisikanya, menurutnya metafisikalah yang mampu menyatukan keberagaman komponen ralitas, batas-batas mereka dan hubungan dalamm suatu kesatuan totalitas. Pemikiran absolut, menurut Hegel merupakan satu realitas yang membuka dirinya sendiri untuk kita dalam konsep-konsep seluruh bidang pengalaman manusia. Dimana setiap realitas menghasilkan suatu kebenaran pandangan realitas, namun setiap realitas hanya menghasilkan sebuah batasan parsial dan pandangan yang tidak sempurna. Tugas metafisika sebagai sebuah teori tentang semua realitas adalah untuk mengidentifikasikan semua dimensi ataupun semua spek realitas semua jalan yang nyata daalm keberagaman dan kompleksitas yang ditangkap oleh konsep-konsep kita dan menunjukkan batas setiap dimensi realitas serta bagaimana keduanya saling terkait.

D.Kesimpulan “Sebuah Penilaian terhadap Idealisme”
Setelah kita melakukan petualangan singkat dalam sejarah intelektual filosofis tiga tokoh utama idealis, yaitu Berkeley, Kant dan Hegel kita dapat mengetahui bahwa idealisme secara umum berkembang dalam sebuah perenungan maupun perdebatan pemikiran baik itu dalam corak idealisme maupun jawaban terhadap ide-ide lainnya. Bahkan hal itu dimulai sejak Plato, dan mungkin akan terus dipikirkan sampai detik ini. Kenyataan bahwa idealisme telah hidup dan berkembang selama berabad-abad menunjukkan bahwa ia memang sebuah kebutuhan dalam kehidupan manusia.
Mungkin dalam hal ini Hegel dapat dikatakan telah mampu mencari titik temu antara kecenderungan Kant maupun Berkeley, tentu dengan dialektikanya. Sebagai contoh idealismenya pada alam, menunjukkan bahwa alam tersusun dari keberagaman dan itu sebenarnya satu. Sehingga disini nilai-nilai moral yang diangkat Kant dan juga agama yang disinggung Berkeley terdapat dalam “alam” sebagai sebuah kesatuan. Dari usaha mereka dalam menjalani kehidupan yang lebih baik, para idealis, terutama Hegel mengisyaratkan bahwa banyak yang merasakan adanya kekuatan yang berada di luar diri kita yang memberi kita kekuatan dan pemikiran. Idealisme menegaskan bahwa jiwa dan nilai secara struktural adalah bagian dari alam. Sebagaimana kata Hegel, bahwa kita dapat merasa tenteram dan merasa “at home” dirumah sendiri dalam alam ini.
Akan tetapi para kritisi idealisme mengatakan bahwa filsafat itu kabur dan abstrak dalam istilah-istilahnya, Ia hanya merupakan perhatian tradisional dan kekurangan pandangan ilmiah. Bahkan ada yang mengatakan bahwa idealisme condong untuk menempatkan sikap keakhiratan yang ketinggalan zaman, dan hal ini membawa kepada stagnasi dan bahkan kemunduran pemikiran itu sendiri. Akan tetapi saya rasa kritikan ini terlalu naïf, karena dalam kritikya dia terjebak pada kedangkalan dalam memaknai sisi spiritualitas ataupun sesuatu yang transenden, dan tidak melihat pergulatan pemikiran idealis pada para tokoh-tokoh yang kita angkat sebelumnya Bagaimanapun juga, pandangan idealis tidak akan pernah menjadi absolut terhadap yang lainnya, hatta Hegel sekalipun yang dikatakan sebagai idealisme absolut, karena ia akan berbenturan dengan banyak persoalan yang bertebaran dalam alam ide maupun materi ini.
Dan kritikan juga datang dari penentangnya yang paling frontal, yaitu kaum realis, bahwa idealisme menuju kepada hal-hal yang ada di luar bukti-bukti empiris dan justru mengarah kepada hal-hal yang bersifat harapan dan imaginasi saja. Kemudian hal ini mengarah kepada pandangan aksidental dan essensial pada sisi materi. Menurut idealis, eksistensi itu bersandar pada akal, maka kelompok realis menjawab dipersepsikan merupakan sesuatu yang aksidental dalam benda, padahal eksistensi adalah sesuatu yang essensial. Saya rasa kritikan ini juga sudah terjawab dalam pandangan Berkeley maupun Kant.
Terakhir yang ingin saya katakan adalah idealisme telah menemukan momentumnya tersendiri, idealisme berkembang dengan kekuatannya dan kepercayaannya, tentu ini didukung dengan berbagai argument, baik berupa subjektifisme, objektifisme, trnasendentalime, maupun absolutisme. Apapun bentuknya harus dilihat bagaimana dia mengungkapkan argumennya kepada public. Kekuatan idealisme tidak hanya terletak dalam diri seorang pemikir maupun filsosof idealis tetapi telah terabadikan dalam pikiran-pikirannya yang terpatri dalam mental dan spiritual kehidupan pengikutnya. Idealisme telah mengembangkan sayapnya dengan penjelasan ilmiah rasional tentang alam, sebagaimana Hegel, tentang Agama sebagaimana Kant dan Berkeley.


****************************************************
BIBLIOGRAFI
· Routledge History of Philosophy. Volume IV. The Age of German Idealism.
· Falckenberg, Richard. History Of Modern Philosophy [E-Book #11100]
· Titus, H Harold and Smith, S Marilyn. Persoalan-persoalan Filsafat. Bulan Bintang. Jakarta. 1984
· Lavine. TZ. Petualangan Filsafat dari Socrates ke Sartre. Jendela. Yogjakarta: 2002
· Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum. Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Rosda Karya. Bandung: 2003
· Hegel, GWF. Lectures on The History of Philosophy Vol.III. Thoemmes press. Virginia: 1999
· Bertens, K. Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius. Yogjakarta: 1975
· Durrant, Will. The Story of Philosophy, New York: 1959
· Hardiman. F. Budi. Filsafat Modern. Dari Machiavelli sampai Neithche. Gramedia. Jakarta. 2004
· Kenny, Anthony. The Rise of Modern Philosophy. Volume 3. Clarendon Press. Oxford; New York. 2006 (PDF file)

Muhammad Abduh Ali Saputra BM


Serpong, 30 Juni 2009

Label:

Senin, 17 Agustus 2009

Epistemologi dan Pandangan Dunia

Epistemologi dan Pandangan Dunia

Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar dan realitas. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titik-kulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan vice-versa.
Akan tetapi, bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu?
Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia, sebagai makhluk dinamis dan progresip, manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan, tentang ada dan keberadaan, tentang perkara-perkara eksistensial. Penulusuran, penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Till death do us apart, manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal.
Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan, filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten.[2] Betapa pun, sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrumen yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Dengan kata lain, akal yang digunakan sebagai instrumen berfilsafat harus diuji dulu validitasnya, apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Betapa tidak, dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Dengan demikian, pembahasan epistemologi sebagai subordinat dari filsafat menjadi mesti adanya.
Yakni, sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrumen dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. Dan hal ini merupakan raison d'être pembahasan epistemologi. Atau sederhananya, pembahasan epistemologi adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Tentu saja, harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin.[3] Walhasil, pembahasan epistemologi -sebagai ilmu yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat - harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat.

Apa itu Epistemologi
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, teori. Epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.

Masalah-masalah Filosofis; Masa Yunani dan Masa Medieval
Pada abad ke-13, seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas, dengan memanfaatkan sumber-sumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles, cendekiawan Muslim dan Yahudi. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masa-masa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat.
Pada abad ke-5 SM, Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. Oleh karena itu, seorang Sophist prominen, Gorgias, berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud, karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui, dan jika ilmu bersifat nisbi, tidak dapat dikomunikasikan. Seorang Sophist ternama lainnya, Protagoras, berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain, karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Plato, mengikuti ustadznya Socrates, mencoba untuk menjawab isykalan-isyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible, atau ide-ide, yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. Dengan demikian, hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original, sementara mengandalkan indra-persepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia.
Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya, namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. Ilmu diraih baik secara langsung, dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies, atau tidak langsung, dengan mendeduksi kenyataan-kenyataan baru dari apa yang telah diketahui, berdasarkan aturan-aturan logika. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika, yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles, akan membantu menjaga dari perangkap-perangkap yang dipasang oleh para Sophist. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi, akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup, mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan.
Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik, filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman, mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah sistem keyakinan integral. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat, akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptural sebagai nara sumber keyakinan agama.

Masa Plato dan Aristoteles
Plato dapat dikatakan sebagai filsuf pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat, meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemologi ini. Filsuf Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya, sebagaimana berikut ini,
Topik Pemikiran:
Pandangan tentang dunia, menurut Plato, Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) sementara dalam pandangan Aristoteles, Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani.
Kenyataan sejati, menurut Plato, Ide-ide berasal dari dunia ide. Sementara dalam kacamata Aristoteles, segala sesuatu yang ada di alam bisa diindera.
Pandangan tentang manusia, menurut Plato, Terdiri dari badan dan jiwa. Jiwa abadi; badan fana (tidak abadi), Jiwa terpenjara oleh badan. Sementara dalam pandangan Aristoteles, badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.
Asal pengetahuan, menurut Plato, dunia ide, namun tertanam dalam jiwa setiap manusia. Sementara dalam pandangan Aristoteles, kehidupan dunia dan alam nyata.
Cara meraih pengetahuan, menurut Plato, terpancar dari alam jiwa (Anamnesis). Sementara dalam pandangan Aristoteles, observasi dan abstraksi lalu diolah dengan logika.
Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filsuf modern. Idealisme Plato mempengaruhi filsuf-filsuf Rasionalis seperti Spinoza, Leibniz, dan Whitehead. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsuf-filsuf Empiris seperti Locke, Hume, dan Berkeley.

Rasio Vs Indra Persepsi
Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19, masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (inderawi-persepsi). Filsuf Francis, René Descartes (1596-1650), filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677), dan filsuf Jerman, Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti (badihi) atau axioma-axioma. Sementara orang-orang seperti, Francis Bacon ( 1561-1626) and John Locke (1632-1704) keduanya adalah filsuf Inggris berkeyakinan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah bersandar kepada pengalaman, persepsi dan inderawi.
Filsuf Francis René Descartes secara rigoris menggunakan metode deduksi dalam jelajah filsafatnya. Barangkali Descartes ini dikenal baik atas karya pionirnya untuk bersikap skeptis dalam berfilsafat. Dialah yang pertama kali memperkenalkan metode sangsi dalam investigasi terhadap ilmu pengetahuan.
Descartes yang kerap disebut sebagai Bapak Filsafat Modern (sekaligus filsafatnya kemudian dikenal sebagai Cartesians) ini dalam mengusung metode rasionalnya, dia menggunakan metode sangsi dalam menyikapi pelbagai fenomena atau untuk mencerap ilmu pengetahuan. Postulat, Cogito Ergo Sum adalah milik Descartes. Rumusan postulat ini yang menemaninya untuk menyingkap ilmu pengetahuan. Menurut Descartes segala sesuatu yang berada di dunia luar harus disangsikan dan diragukan.
Pandangan Descartes tentang manusia bersifat dualisme. Ia melihat manusia sebagai dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Tubuh tidak lain adalah suatu mesin yang dijalankan jiwa. Hal ini dipengaruhi oleh epistemologinya yang memandang rasio sebagai hal yang paling utama pada manusia.
Empirisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf dan negarawan Inggris Francis Bacon pada awal-awal abad ke-17, akan tetapi John Locke yang kemudian mendesainnya secara sistemik yang dituangkan dalam bukunya "Essay Concerning Human Understanding (1690). John Locke memandang bahwa akal manusia pada awal lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya berisi. Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia. John Locke adalah orang yang tidak percaya terhadap konsepsi intuisi dan batin. Filsuf empirisme lainnya adalah Hume. Ia memandang manusia sebagai sekumpulan persepsi (“a bundle or collection of perceptions”). Manusia hanya mampu menangkap kesan-kesan saja lalu menyimpulkan kesan-kesan itu seolah-olah berhubungan. Pada kenyataannya, menurut Hume, manusia tidak mampu menangkap suatu substansi. Apa yang dianggap substansi oleh manusia hanyalah kepercayaan saja. Begitu pula dalam menangkap hubungan sebab-akibat. Manusia cenderung menganggap dua kejadian sebagai sebab dan akibat hanya karena menyangka kejadian-kejadian itu ada kaitannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Selain itu, Hume menolak ide bahwa manusia memiliki kedirian (self). Apa yang dianggap sebagai diri oleh manusia merupakan kumpulan persepsi saja.

Urgensi Epistemologi
Dunia ini penuh dengan berbagai maktab dan ideologi. Setiap ideologi berlandaskan pada suatu "pandangan dunia", dan "pandangan dunia" ini berpijak pada epistemologi. Dari sini manusia mengetahui dengan jelas betapa pen­tingnya epistemologi. Seseorang yang memiliki ideo­logi materialisme, yang tentunya ideologi itu berlandaskan pada pandangan dunia materialis, dan pandangan ini juga berpijak pada suatu epistemologi khusus. Dan ideologi-ideologi yang lain, juga ber­sumber dari pandangan-pandangan dunia lain, dan pandangan-pandangan ini masing-masing berpijak pada epistemologi-epistemologi tertentu. Oleh karena itu, sebelum memasuki berbagai pembahasan berkenaan dengan ideologi dan pandangan dunia, terlebih dahulu akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah epistemologi.
Pada masa sekarang ini epistemologi merupakan suatu masalah yang amat penting, sedangkan pada masa yang lalu hal ini tidak begitu dianggap penting. Epistemologi telah dikaji sejak dahulu kala, kurang lebih sejak dua ribu tahun yang lalu. Di dalam filsafat Islam, kita tidak akan menjumpai suatu bab yang ber­judul Nazhariah al-Ma`rifah atau "Teori Pengetahuan". Tetapi sebagian besar persoalan yang menyangkut masalah epistemologi, dipaparkan secara terpisah-pisah dalam berbagai pembahasan berkenaan dengan ilmu, pengetahuan, pemahaman, rasio, logika, dan berbagai permasalahan tentang bentuk pemi­kiran dan yang berhubungan dengan diri dan jiwa. Oleh karena itu, sejak dahulu kala sedikit banyak mereka juga memahami masalah epistemologi, tetapi pada masa sekarang ini, pembahasan filsafat lebih banyak berputar pada masalah epistemologi.

Kemungkinan Epistemologi
Pembicaraan pertama dan klasik dalam bab epistemologi adalah mungkinkah epis­temologi itu? Mungkinkah kita mengetahui dan mema­hami hakikat alam ini? Mungkinkah kita memahami hakikat manusia? Mungkinkah mengetahui hakikat wujud ini?[4] Ada sekelompok orang yang secara total menolak adanya kemungkinan ini, dan mengatakan bahwa epistemologi tidak mungkin ada pada diri manusia. Yakni pada diri manusia tidak ada suatu ben­tuk epistemologi yang dapat dijadikan sebagai sandaran yang bisa dipercaya. Istilah "saya tidak tahu" sudah merupakan kodrat, ketentuan dan nasib manusia yang tidak dapat diubah. Secara sekilas pandangan ini lemah dan tidak perlu dihiraukan, tetapi para pendukung gagasan ini memiliki berbagai argumen yang kuat, yang tidak mudah dipatahkan. Saya tidak hendak mengatakan bah­wa hal itu tidak mungkin (mematahkan argumen mere­ka), tetapi saya mengatakan bahwa hal itu tidak mudah.

Pyrho dan Kemungkinan Epistemologi
Pada masa setelah Socrates, ada sekelompok orang yang menamakan dirinya "Kelompok Peragu" dan yang paling terkenal di antara mereka adalah seorang yang bernama Pyrho. Ia mengungkapkan sepuluh argumen mengenai ketidakmungkinan epistemologi. Ia mengatakan, "mustahil dapat mengetahui sesuatu dengan pasti, ragu-ragu dan saya tidak tahu adalah keten­tuan dan nasib pasti manusia". Argumen yang paling ringan ialah tatkala ia menyatakan, "Jika manusia itu hendak memahami dan mengetahui sesuatu, apa alat dan instrumen yang akan ia gunakan? Kita tidak memi­liki alat lebih dari dua: indera dan rasio. Sekarang saya bertanya, Apakah indera dapat berbuat kesalahan atau­kah tidak? Pasti semua menjawab bahwa kesalahan yang terjadi pada alat penglihatan, pendengaran, pera­sa, peraba dan penciuman tidak dapat dihitung jumlah­nya, dan bahkan ada yang menyatakan mampu untuk membuktikan seratus kesalahan yang telah dilakukan oleh alat penglihatan. Ia melanjutkan, "Sesuatu yang ada kemungkinan salah dan dapat menjadi salah, tidak dapat dijadikan sebagai pegangan dan sandaran. Ketika saya melihat sesuatu dan ternyata penglihatan saya itu salah, maka saya tidak dapat mempercayai penglihatan saya tatkala penglihatan itu melihat sesuatu yang lain." (Islam dan Epistemologi, hal. )
Lalu bagaimanakah dengan rasio? Ia mengatakan, "Rasio justru banyak melakukan kesalahan melebihi indera. Pada berbagai argumen rasional, ilmuwan dan para filsuf seringkali melakukan kesalahan. Dengan demikian, indera dan rasio dapat melakukan kesalahan, sementara kita hanya memiliki dua alat ini. Oleh karena itu, bagaimanapun dan apa pun yang kita pikirkan, apa pun yang berhubungan dengan rasio dan indera, maka jelas dapat menjadi salah, dengan demikian, kita tidak dapat mem­percayainya dan menjadikan keduanya itu sebagai pe­gangan." (Mengenal Epsitemologi, Muthahhari, hal. 25)

Keraguan al-Ghazali
Di antara ulama Islam seseorang yang pertama kali memulai filsafat dan madrasahnya dari keraguan adalah al-Ghazali. Al-Ghazali memulai aktivitasnya dari keraguan, sebagaimana yang dilakukan oleh Descartes. Kedua sosok itu berangkat dari titik yang sama. Keduanya memulai aktivitasnya dari keraguan dan keduanya menyatakan bahwa telah berhasil meraih keyakinan. Tetapi ada dari mereka yang memulai aktivitasnya dari keraguan dan tetap berada dalam keraguan, hal ini terdapat dalam dunia Islam dan juga dunia Barat dan jika ada kesempatan saya akan menceritakan ringkasan sejarahnya. Tatkala al-Ghazali hendak memulai menuntut ilmu, ia mera­gukan segala yang ada. Yakni dia meragukan apa saja yang telah ia gapai. Ia mulai menuju indera dan mengatakan, "Sekarang saya duduk di sini, buku ada di depan saya, pena dan kertas ada di tangan saya, saya tengah melihat angkasa, saya tengah mendengar ber­bagai suara, sekalipun saya ragu terhadap berbagai hal, tetapi saya tidak dapat ragu terhadap keraguan saya ini". Kemudian dia memberi jawaban kepada dirinya sendiri, (bahkan di sini pun dia masih tetap tidak stabil dan terjerumus dalam kesalahan). la mengatakan, "Wahai Ghazali! Sampai sekarang ini engkau masih tengah bermimpi. Misalnya saja dalam mimpi engkau duduk dan menulis buku, sedang berbicara dengan rekan-rekanmu, engkau mendengar pembicaraannya, dan di alam mimpi itu engkau melihat semuanya dengan mata kepalamu sendiri, memakan makanan yang lezat-lezat, dan semua itu tidak ubahnya seperti yang diungkapkan oleh Nasim Syumol mengenai ke­luhan si fakir yang hidup sengsara,
Suatu malam aku bermimpi mengenakan pakaian baru
Ku dengar alunan musik dan aku di ranjang yang hangat dan lembut
Sakuku penuh dengan uang yang tak terhitung
Tatkala terjaga, aku lihat sebagian anggota tubuhku tanpa pakaian
Wahai Ghazali! Tidakkah dalam alam mimpimu engkau telah melihat hal-hal yang semacam ini? Seba­gaimana sekarang ini engkau tidak merasa ragu bahwa ini (keraguan) adalah benar, di alam mimpimu pun engkau tidak merasa ragu atas apa-apa yang engkau lihat saat itu. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang merasa ragu atas apa-apa yang ia lihat dalam mimpinya dan mengatakan, "Apakah yang aku lihat itu betul atau salah? Di alam mimpi manusia tidak akan merasa ragu, apa yang ia saksikan benar-benar ia sak­sikan, tetapi ketika ia terjaga, ternyata semua itu hanya khayalan dan tidak ada bentuknya, tatkala terjaga, aku lihat sebagian anggota tubuhku tanpa pakaian.
Mungkinkah seluruh kehidupanku ini bukan mimpi besar? Apakah tidak mungkin sekarang ini saya, Ghazali, yang dilahirkan oleh ibuku si fulana dan memi­liki ayah si fulan, menuntut ilmu di sekolah, menikah, belajar selama bertahun-tahun, bertahun-tahun melatih diri, dan sekarang duduk di sini, lalu secara tiba-tiba saya terbangun dan menyaksikan bahwa semuanya hanyalah mimpi? Dari mana saya tahu kalau ini bukan mimpi? Adakah bukti yang memperkuat bahwa kehi­dupan saya sekarang ini, di mana sekarang ini saya duduk sebagai filsuf dan hendak menemukan suatu dasar pemikiran, adalah bukan merupakan lanjutan dari sebuah mimpi panjang?" (Mengenal Epsitemologi, Muthahhari, hal. 26)
Pernyataan itu menunjukkan bahwa betapa manusia dalam menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan epistemologi dapat terperosok dalam berbagai jurang kesulitan.

Descartes dan Masalah Epistemologi
Bukankah Descartes juga demikian? Descartes juga pada saat meneliti "pandangan dunia"nya, memeriksa keyakinannya terhadap agama serta pengetahuan dan juga pada saat ia mengkaji ulang akhlak (etika), filsafat dan berbagai ilmu-ilmunya, tiba-tiba ia terperosok ke dalam masalah epistemologi dan mengatakan, "Dengan dalil apa tatkala saya menyatakan bahwa dunia ini ada­lah demikian, Tuhan itu ada, jiwa itu ada, ruh itu ada, dunia ini ada, Paris itu ada, agama al-Masih adalah demikian?" Kemudian ia menuju pada berbagai alat dan instrumen epistemologi, ia melihat bahwa semua­ nya masih dapat diperdebatkan lagi. la hendak bersan­dar pada indera, ia melihat bahwa indera adalah yang paling lemah dan rapuh dibandingkan yang lain. la hendak bersandar pada rasio, ia juga melihat bahwa rasio memiliki kelemahan. Tiba-tiba ia merasakan kehilangan keyakinan dan kepercayaan, ia mulai mera­gukan segalanya dan tidak tersisa lagi keyakinan dalam dirinya. Tatkala ia telah tenggelam dalam rasa bimbang dan ragu-ragu ini, tiba-tiba ia disadarkan oleh poin ini yang mana ia mengatakan, "Sekalipun saya meragukan segala yang ada, tetapi saya tidak ragu bahwa saya tengah dalam keadaan ragu." Descartes berdiri di atas sebuah batu besar di alam terbuka dan mengatakan, "Saya telah menemukan sesuatu; tatkala saya meragu­kan indera saya, meragukan berbagai pengetahuan rasio saya, atau bahkan meragukan pada keberadaan diri saya sendiri, juga meragukan keberadaan Tuhan, meragukan agama dan kehidupan saya, semua itu ada­lah benar. Tetapi saya tidak dapat merasa ragu pada satu hal saja yaitu, saya tidak ragu bahwa saya tengah merasa ragu. Bahkan sekalipun saya meragukannya, saya tetap mengetahui bahwa saya tengah merasa ragu." (Mengenal Epistemologi, Muthahhari, hal. 28)
Di bawah langit dan di tengah hamparan bumi itu ia telah berhasil menemukan suatu landasan epistemo­logi. Begitu ia menemukan landasan itu, dengan segera ia membangunnya dengan mengatakan, "Saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya merasa ragu, berarti saya yang tengah merasa ragu ini, adalah ada." Di sini ia telah menemukan suatu keyakinan yakni bah­wa "saya ini ada" dan ia mulai perjalanannya dengan "saya sekarang tengah merasa ragu, dan karena saya tengah merasa ragu, berarti saya yang tengah merasa ragu ini, adalah ada." Sekarang marilah kita lihat bersama benarkah apa yang dikatakan oleh Descartes? Ibnu Sina pada masa tujuh ratus tahun sebelum Descartes telah mengungkapkan kata-kata semacam itu, dan ia juga telah berhasil menemukan jawabannya, dan di sini saya tidak akan memaparkan permasalahan itu.

Jawaban atas Keraguan Pyrho
Jika demikian maka masalah pertama epis­temologi adalah masalah kemungkinan epistemologi yang mana mungkinkah manusia memiliki kemampuan untuk memahami dan mengetahui? Pyrho mengatakan bahwa manusia itu tidak mampu untuk memahami dan mengetahui (hal itu berdasarkan pada argumen-argu­mennya yang telah dikemukakan). Terdapat jawaban dan sang­gahan atas pandangan Pyrho ini. Dalam catatan kaki di buku Ushul Falsafeh (Dasar­-dasar Filsafat) telah dipaparkan berbagai kesalahan atas pandangan ini. Mereka memberikan jawaban kepada Pyrho sebagai berikut, "Anda mengatakan bahwa indera dapat melakukan kekeliruan dengan dalil bahwa penglihatan saya terkadang keliru, suatu kali saya pernah melihat seakan-­akan ada seorang yang berkepala dua, ranting pohon yang setengahnya berada dalam air terlihat patah dan lain sebagainya. Anda yang mengatakan bahwa indera dapat melakukan kekeliruan, apakah tatkala Anda menyaksikan indera melakukan kekeliruan, pada saat itu juga Anda merasa yakin bahwa itu adalah suatu kekeliruan, ataukah Anda merasa ragu bahwa indera itu telah melakukan kekeliruan? Tatkala Anda mengatakan bahwa ketika saya bangun dari tidur, dan saya meng­usap kedua mata saya, saya melihat orang yang tengah berdiri di hadapan saya memiliki dua hidung dan em­pat mata, lalu Anda mengatakan bahwa ini adalah kekeliruan, apakah dalam hal ini Anda mengetahui dan yakin bahwa itu adalah kekeliruan, ataukah Anda hanya menduga bahwa itu adalah kekeliruan? Tidak, saya mengetahui bahwa itu adalah kekeliruan, pasti ia tidak memiliki dua hidung dan empat mata." (Mengenal Epsitemologi, Muthahhari, hal. 30)
Jika demikian maka Anda sendiri telah menemukan kekeliruan ini dengan perantaraan sebuah keyakinan, lalu bagaimanakah Anda mengatakan bahwa saya tidak mampu untuk memperoleh pengetahuan? Ini adalah sebuah pengetahuan (ma`rifah). Tatkala Anda mengata­kan bahwa di suatu tempat rasio telah berbuat suatu kekeliruan, kemudian dengan yakin dan pasti Anda mengatakan bahwa rasio telah melakukan suatu keke­liruan, hal itu sama dengan ungkapan: "Saya mengeta­hui bahwa rasio telah melakukan suatu kekeliruan," dengan demikian, Anda telah sampai pada haki­kat. Tatkala manusia masih belum sampai pada hakikat, dia tidak akan mengetahui kekeliruan apa-apa yang ada di depannya.
Oleh karena itu, kita mesti mengatakan demikian bahwa manusia pada sebagian pengetahuan yang ia miliki terdapat kekeliruan dan juga secara pasti tidak terdapat kekeliruan pada sebagian pengetahuan yang lain. Dengan demikian maka kita mesti melakukan pemba­gian atas kasus permasalahan ini. Kita mesti mencari dan menemukan sebuah neraca, lalu kita perhatikan bersama apakah dengan neraca itu kita mampu untuk mengadakan pembenahan atas berbagai kekeliruan itu ataukah tidak? Kenapa tatkala kita melakukan keke­liruan pada beberapa masalah saja, lalu kita menging­kari epistemologi secara total? Kenapa kekeliruan kita dalam beberapa kasus permasalahan itu, kita sejajarkan dengan berbagai keyakinan kita terhadap berbagai per­masalahan yang amat jelas yang di situ tidak terdapat suatu keraguan pun? Pernyataan Pyrho ini tidak ubah­nya semacam syair milik Sa'di:
Karena di antara sebuah kaum ada seorang jahil
Ia tidak berada di atas bukit dan tidak pula di atas awan
Tidakkah engkau melihat seekor lembu yang ada di padang rumput
Mencemari seluruh lembu yang ada di desa
Benar, kasus tersebut dapat berlaku pada hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan sosial, yakni jika ada beberapa individu dari sebuah masyarakat, dari sebuah kelompok, misalnya saja dari kelompok roha­niawan, muncul pribadi-pribadi yang tidak bermoral atau berprilaku buruk, maka hal itu akan mencoreng harga diri mereka semua. Tetapi bukan berarti ketika si Zaid berbuat kesalahan lalu kita menghukum si Amir.
Di kota Balakh pandai besi berbuat salah
Di kota Syusytar mereka memenggal leher pandai tembaga
Sebagian dari epistemologi kita ini adalah salah dan pasti sebagian yang lain adalah benar, lalu (dengan menggunakan epistemologi yang benar itu) kita mela­kukan koreksi pada epistemologi yang salah itu. Dari sinilah munculnya ilmu logika (mantiq).
Ilmu logika adalah sebuah ilmu yang merupakan asas dari epistemologi. Berkaitan dengan mungkin atau tidak mungkinnya memperoleh epistemologi, sebagian yang menyatakan bahwa kita tidak mungkin memper­oleh pengetahuan adalah karena mereka memukul rata permasalahan yang ada, sementara mereka yang menyatakan bahwa kita ada kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, akan mencari neraca yang dapat digunakan untuk menimbang epistemologi yang salah dan yang betul, dan dengan neraca itu pula mere­ka akan memisah-misahkan antara epistemologi yang salah dan epistemologi yang betul.
Kita mesti melihat apa yang dikatakan oleh al-Quran berkaitan dengan permasalahan ini? Apakah al-Quran meng­akui bahwa ada kemungkinan untuk memperoleh epistemologi, ataukah al-Quran bahkan menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan untuk memperoleh epistemologi? Sekalipun (al-Quran menyatakan) ada kemungkinan untuk memperoleh epistemologi, tetapi dikarenakan hal itu datangnya dari al-Quran dan mazhab, maka epistemologi yang berada dalam lingkup ideologi itu, kemungkinan akan memiliki suatu hukum tertentu, dan hukum tersebut ialah: apakah epistemo­logi itu dibenarkan oleh syariat ataukah bah­kan terlarang? Epistemologi itu boleh atau tidak boleh? Di sini terdapat dua bentuk permasalahan. Pertama, apakah epistemologi itu mungkin ataukah tidak mungkin? Kedua, apakah epistemologi itu diper­bolehkan (ataukah tidak diperbolehkan)? Tentunya Anda telah mengetahui bahwa di dalam Taurat permasalahan ini dijelaskan dengan suatu bentuk penjelasan yang lain dari pada yang lain, dan dikarenakan kita meyakini bahwa Taurat adalah sebuah kitab yang di dalamnya telah terjadi perubahan dan penyimpangan - yakni tat­kala kita membandingkan dengan al-Quran, suatu permasalahan yang dijelaskan oleh al-Quran dan juga oleh Taurat - maka kita akan menyaksikan dengan jelas bahwa Taurat dalam menjelaskan permasalahan itu ber­tolak belakang dengan penjelasan al-Quran. Kita sama sekali tidak ragu bahwa penjelasan yang ada dalam Taurat itu, benar-benar telah disimpangkan dan diselewengkan. A-Quran yang merupakan sebuah kitab agama tidak akan mengungkapkan permasalahan ini secara filosofis; yakni dengan bentuk apakah epis­temologi itu mungkin ataukah mustahil? Akan tetapi kita mesti memahami isi al-Quran itu dengan memper­hatikan apakah pandangan dan pendapat yang terdapat dalam a-Quran itu berdasarkan pada kemungkinan epistemologi, ataukah berdasarkan pada kemustahilan epistemologi? Apakah berbagai tuntunan yang ada dalam al-Quran itu dapat dianggap berdasarkan pada kemungkinan epistemologi ataukah pada ketidakmung­kinan epistemologi? Dan masalah yang lain ialah apakah epistemologi itu dibolehkan ataukah tidak diboleh­kan?

Penyimpangan Sejarah yang Paling Merugikan
Dalam Taurat, terdapat peyimpangan yang saya rasa dalam dunia ini tidak ada suatu bentuk penyim­pangan yang lebih merugikan dari bentuk penyimpang­an itu. Kita semua mengetahui bahwa kisah Nabi Adam as selain tercantum dalam al-Quran juga ter­cantum dalam Taurat. Kisah tersebut ialah: Adam as dan istrinya selama berada di surga diperbolehkan untuk menikmati berbagai kenikmatan dan seluruh buah-buahan yang ada, namun di sana terdapat suatu jenis pohon yang mana mereka berdua tidak diperbolehkan untuk mendekatinya dan memakan buahnya. Adam as memakan buah pohon tersebut dan dikarenakan hal itulah maka ia dikeluarkan dari surga. Inilah kisah yang terdapat dalam al-Quran dan juga Taurat. Tetapi per­soalannya adalah, pohon apakah itu? Dari berbagai keterangan yang terdapat dalam al-Quran, dan juga berbagai hadis yang dapat dijadikan sandaran, dapat diambil kesimpulan bahwa buah terlarang itu adalah berhubungan dengan sisi kebinatangan (hayawaniah) manusia dan bukan berhubungan dengan sisi kemanusia­an (insaniah) manusia. Yakni suatu perkara yang meru­pakan bagian dari hawa nafsu, keserakahan, iri, dengki, yang menurut istilah disebut dengan "anti kemanusia­an".
Janganlah engkau mendekati pohon tamak, yakni janganlah engkau tamak. Janganlah engkau men­dekati pohon dengki, yakni janganlah engkau mendeng­ki. Tetapi Adam as, menjatuhkan dirinya dari kemanusiaan dan mendekati pohon itu. la mendekat pada tamak, serakah, dengki, takabur, yakni mendekat pada berbagai perkara yang merendahkan serta menjatuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Allah berfirman kepadanya, "Keluarlah dari sini." (kapan Allah mengusirnya dari surga?) Allah mengusir Adam as dari surga setelah, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka­kannya kepada para malaikat, lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-bendu itu jika kamu orang-orang yang benar!." (Q.S. al-Baqarah: 31)
Setelah Allah mengajarkan kepadanya seluruh haki­kat, (lalu Allah berfirman), "Ini bukan tempat tinggal­mu, keluarlah dari sini!"
Isi Kitab Taurat telah diselewengkan oleh orang-­orang yang memiliki tujuan keji, di mana di sana dise­butkan bahwa pohon yang tidak boleh didekati oleh Adam, adalah berhubungan dengan sisi kemanusiaan Adam dan bukan berhubungan dengan sisi kebinatang­an, berhubungan dengan peningkatan kedudukan Adam dan bukan perendahan kedudukan Adam. Bagi Adam terdapat dua bentuk kesempurnaan dan Allah tidak menginginkan kedua kesempurnaan itu diraih oleh Adam secara sekaligus; pertama, kesempurnaan penge­tahuan dan yang kedua, kekekalan di surga. Adam telah merasakan buah dari pohon pengetahuan (epis­temologi), lalu matanya terbuka dan pada saat itu ia mulai mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk. Ia bergumam, "Sebelum ini saya dalam keadaan buta, sekarang ini mata saya terbuka. Sekarang saya mulai dapat mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk." Kemudian Allah Swt berfirman kepada para malaikat, "Lihatlah! Kamu tidak menghendaki ia menikmati buah dari pohon pengetahuan dan epistemologi, tetapi ia telah memakannya, dan matanya menjadi terbuka. Sekarang tatkala matanya telah terbuka, ini amat ber­bahaya jika ia sampai memakan buah pohon kekekalan, yang akhirnya ia akan hidup kekal. Dengan demikian maka sebaiknya kita keluarkan saja ia dari surga."
Bentuk pengetahuan dan penyelewengan agama dan mazhab ini, mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Akhirnya mereka mengatakan, "Dengan demikian maka cukup jelas, adanya kontradiksi antara agama dan pengetahuan. Adam mesti beragama dan mematuhi perintah Tuhan, atau memakan buah pengetahuan sehingga matanya menjadi terbuka, atau mematuhi perintah Tuhan dan matanya tetap dalam keadaan buta dan tidak mengetahui sesuatu apa pun, atau memiliki pengetahuan tetapi melanggar perintah Tuhan. Karena supaya matanya dapat terbuka, ia mesti melanggar perintah Tuhan dan mengesampingkan agama". Kemu­dian lambat laun di Eropa muncul berbagai ungkapan di antaranya ialah, "Jika seorang yang mengikuti pandangan Socrates, hidup sengsara dan kelaparan itu jauh lebih baik dari pada menjadi budak", "Sehari saja saya hidup dengan mata terbuka (memiliki pengetahuan pen.) jauh lebih saya sukai daripada seumur hidup dalam keadaan buta (bodoh pen.) dan kemudian berharap akan masuk surga", "Saya lebih suka berada dalam neraka Jahanam dengan mata ter­buka (memiliki pengetahuan), dari pada berada dalam surga dalam keadaan buta (bodoh)."
Hal inilah yang menyebabkan di Eropa muncul sebuah pemikiran yang amat gawat, yaitu adanya kon­tradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama. Anda jangan mengira bahwa pemikiran semacam ini muncul­nya dari empat ilmuwan yang mengeluarkan pendapat­nya. Akar pemikiran itu terdapat dalam agama Nasrani dan Yahudi yang mana keduanya menganggap Taurat sebagai "perjanjian lama" dari kitab samawi. Yakni di sana disebutkan bahwa kalian mesti konsisten terhadap agama dan nantinya kalian masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, makan, minum, tidur dengan leluasa serta berkeliling ke berbagai penjuru surga, tetapi mata kalian mesti dalam keadaan tertutup. Tetapi jika mata kalian ter­buka, maka kalian mesti hidup dalam keadaan sengsara dan menanggung berbagai beban penderitaan.

Al-Quran dan Kisah Adam As
Adapun dalam al-Quran sama sekali tidak ter­dapat bentuk pembicaraan semacam itu. Al-Quran menceritakan kisah Adam As tatkala mendekati pohon tersebut setelah kisah, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka­kannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama betuta-benda itu jika kamu orang-orang yang benar!. (Qs. al-Baqarah [2]: 31)
Yakni sebelum Adam As menempati surga telah dikatakan kepadanya untuk tetap tinggal di sana, mata­nya dalam keadaan terbuka, telah mengetahui berbagai rahasia alam, ia adalah seorang manusia dan bukan se­ekor binatang yang matanya dalam keadaan tertutup, dan karena memakan buah dari pohon itu lalu matanya menjadi terbuka. Sejak pertama masuk ke dalam surga Adam As adalah seorang manusia. Karena ia adalah seorang manusia, maka ia memiliki pengetahuan, epistemologi, memahami dan mengetahui berbagai hakikat. Adam As dikeluarkan dari surga adalah karena ia telah keluar dari sisi kemanusiaan. Dengan ilmu dan penge­tahuan yang ia miliki, ia masih terperdaya hawa nafsu­nya, menjadi budak ketamakan dan keserakahan yang akhirnya ia menjadi tamak dan serakah. Allah menegaskan bahwa di sini (surga) adalah tempat untuk manusia. Adam as telah keluar dari kemanusiaan dan diturunkan dari surga. Adam As tidak mengamalkan epistemologi dan pengetahuan yang ia miliki.
Epistemologi melahirkan "pandangan dunia", dan "pandangan dunia" melahirkan ideologi dan ideologi perlu pengenalan. "Saya (Adam) adalah manusia dan saya mengetahui berbagai hakikat. Kalimat 'saya mengetahui' menunjukkan kepada saya tentang suatu bentuk alam ini. Dan karena saya (Adam) mengetahui alam semesta sedemikian rupa, maka saya terikat dengan 'harus dan tidak boleh'. Tetapi saya tidak menghiraukan `harus dan tidak boleh' itu, tidak mera­sakan adanya rasa tanggung jawab, sekali­pun ada bisikan: 'pohon itu adalah pohon kekekalan, karena Allah merasa iri padamu, maka Dia melarang­mu memakan buahnya. Sekarang pergilah ke pohon itu dan makanlah buahnya,' (mereka menceritakan bahwa Adam memperoleh bisikan semacam itu) saya tidak boleh terpedaya."
Wahai Adam! Anda adalah seorang manusia, Anda memiliki epistemologi, Anda memiliki "pandangan dunia", Anda memiliki ideologi, dan pada akhirnya ideologi mengharuskan amal perbuatan (perbuatan memiliki dua sisi; sisi positif dan sisi negatif), diperlukan ketakwaan, menjaga diri. Mungkinkah seorang yang memiliki ideologi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menahan diri atas rasa sedikit kekurangan? Apa­kah di samping saya memiliki ideologi, saya juga senantiasa menuruti apa saja yang saya lihat? Misal­nya ketika pandangan saya tertuju pada suatu makan­an, kemudian air liur saya menetes, apakah lalu saya tidak mampu menahan diri untuk tidak memakannya! Seorang manusia, dituntut untuk memiliki ketakwaan dan kekuatan untuk menahan diri.
Dalam logika Islam, sebab Adam As dikeluarkan dari surga adalah karena ia tidak mengamalkan pering­kat ke empat dari epistemologinya. Peringkat pertama adalah epistemologi, kemudian "pandangan dunia", kemudian ideologi dan terakhir ideologi mengharuskan ia untuk melaksanakan suatu amal perbuatan. Di sinilah ia tergelincir, sehingga Allah mengusirnya dari surga. Tetapi dalam Taurat disebutkan bahwa sejak pertama Tuhan telah melarangnya (Adam) untuk mencari dan memperoleh epistemologi, dan dikarenakan ia telah memperoleh pengetahuan dan epistemologi sehingga menyebabkan kedua matanya menjadi terbuka, maka Tuhan pun mengusirnya dari surga; pohon itu adalah pohon ilmu pengetahuan.
Dari penjelasan yang telah saya kemukakan men­jadi jelas, bahwa di dunia ini jarang sekali ada suatu pemikiran, pengetahuan, dan pandangan yang diselewengkan, yang mengakibatkan kerugian besar terhadap umat manusia, alam dan agama, seperti penyelewengan yang ada di dalam Taurat. Tentunya, sampai sekarang ini dampak tersebut masih tetap ber­lanjut, yakni di dunia ini masih terdapat arus pemikiran yang kuat yang menyatakan, "Ilmu atau agama, atau salah satu dari keduanya itu," (ilmu dan agama adalah dua hal yang kontradiktif).
Dengan demikian, al-Quran tidak mengakui pelarangan penggalian epistemologi, tetapi bahkan mendukung epistemologi. Dalil apakah yang membuk­tikan bahwa al-Quran mendukung kemungkinan epis­temologi? Hal itu cukup jelas, ketika al-Quran meng­ajak manusia pada penggalian epistemologi, al-Quran sama sekali tidak mengajak pada sesuatu yang mustahil. Apa yang hendak dikatakan oleh al-Quran tatkala menceritakan kisah Adam as dan keluasan epistemologinya? Al-Quran hendak mengatakan, "Wahai manusia! Kalian memiliki kemampuan untuk menggali epistemologi yang tidak terbatas, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-­benda) seluruhnya." Sewaktu Imam Ja'far Shadiq As sedang duduk beralaskan kulit binatang, lalu beliau menunjuk pada alas duduk itu dan berkata, "Bahkan (Adam mengetahui) yang ada di bawah kaki saya ini." Yakni sampai sebegitu luas epistemologi yang dimiliki oleh Adam as. (Mengenal Epsitemologi, Muthahhari, hal. 41)
Dengan demikian maka al-Quran mengakui ada­nya kemungkinan untuk memperoleh epistemologi. kisah Nabi Adam as penuh dengan hikmah dan pela­jaran. Dan di antara hikmah, pelajaran, dan rahasia yang terdapat dalam kisah itu adalah masalah kemungkinan untuk memperoleh epistemologi. Dengan kisah itu, al-­Quran hendak menyatakan kepada seluruh manusia, "Wahai manusia! Kalian adalah anak-anak Adam as itu, anak dari Adam as yang memiliki epistemologi sampai sedemikian rupa. Kalian adalah anak Adam as yang telah berhasil memperoleh epistemologi yang tidak terbatas. Oleh karena itu pergilah menuju epis­temologi yang tidak terbatas. Kalian adalah anak epis­temologi." Menurut pandangan al-Quran, anak Adam as adalah sama dengan anak epistemologi.

Ajakan Al-Quran pada Epistemologi
Al-Quran secara tegas mengajak anak keturunan Adam as pada epistemologi. Dalam al-Quran terdapat berbagai perintah dan anjuran untuk memperhatikan, melihat, dan merenungkan. Dalam al-Quran terdapat berbagai ungkapan semacam ini, Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi." (Q.S. Yunus: 101)
Katakanlah kepada masyarakat ini untuk melihat (baca: berpikir), dan mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Al-Quran hendak menegaskan kepada manusia untuk memahami dan mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dengan menyatakan, "Wahai manusia kenalilah dirimu sendiri, kenalilah alammu, kenalilah Tuhanmu, kenalilah masamu dan kenalilah masyarakat serta sejarahmu." Bahkan ayat, Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, (Q.S. al-Maidah: 105). Yakni wahai orang-orang yang ber­iman atas kalian diri kalian sendiri. Sekarang terlintas dalam benak saya bahwa berbagai mufasir yang di antara mereka adalah Allamah Thabathaba'i" mengata­kan bahwa maksud ayat itu adalah, kenalilah dirimu sendiri.
Pada sebuah ayat yang amat populer dengan sebut­an "dzar" (alam dzar atau alam mitsal, alam ide, mundus imaginalis), terdapat satu poin yang amat menakjubkan berkenaan dengan masalah mengenal diri sendiri, sekalipun bentuk penjelasan itu secara sandi. Al-Quran mengatakan: "Dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka." (Q.S. al-A'raf : 172).
Yakni manusia memberikan kesaksian atas diri mereka sendiri. Dalam memberi kesaksian ini ada dua bentuk. Adakalanya seseorang memberi kesaksian atas sesuatu yang sebelumnya pernah ia lihat dan saksikan, kemudian ia hendak menyampaikan kepada orang lain dan memberikan kesaksian. Dan adakalanya, ada sese­orang yang dihadirkan di suatu tempat untuk kemudian ia akan dijadikan sebagai saksi. Yang pertama disebut dengan "menunaikan kesaksian" (ada' asy-syahadah) dan yang kedua disebut dengan "menanggung kesak­sian" (tahammul asy-syahadah). Al-Quran mengata­kan bahwa Allah menunjukkan manusia kepada dirinya sendiri (walhasil ayat ini adalah salah satu ayat yang berkenaan dengan fitrah), mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri. Yakni al-Quran mengatakan bah­wa lihatlah diri kalian! Allah mengambil kesaksian ter­hadap diri mereka.
Tatkala manusia telah melihat diri mereka sendiri, kemudian Allah berfirman, Bukankah Aku ini Tuhanrnu? Bukankah Aku adalah Tuhanmu? Mereka menjawab, "Ya." Di sini al-Quran tidak mengatakan bahwa Allah menunjukkan Zat-Nya kepa­da manusia, lalu mengatakan bahwa bukankah Aku adalah Tuhanmu? Tetapi al-Quran mengatakan bahwa manusia diperlihatkan kepada dirinya sendiri, kemu­dian Dia berfirman, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Apa­kah tujuan dari semua ini? Apakah hal itu sama seperti ketika si Zaid mereka tunjukkan (kepada seseorang) dan kemudian mereka bertanya (kepada orang itu), "Tidakkah engkau melihat si Amir?" Tidak, duduk per­masalahannya bukan semacam ini.
Sebagai perumpamaan, kita dapat mengumpamakan semacam seorang yang mengatakan kepada temannya, "Lihatlah cermin itu." Ketika temannya melihat ke arah cermin itu, kemudian ia menanyakan, "Bukankah saya seorang yang tampan?" Kenapa demikian? Karena ia melihat ke arah cermin. Jika temannya itu melihat ke arah din­ding, maka jadinya tidak demikian. Allah sebegitu dekat dengan manusia! Mengenal diri dan mengenal Tuhan telah bercampur menjadi satu. Sehingga Dia memerintahkan, "Wahai manusia! Lihatlah dirimu sen­diri." Dan tatkala mereka telah melihat kepada diri mereka sendiri, lalu Allah berfirman, Bukankah Aku ini Tuhanmu. Ketika engkau melihat dirimu sendiri maka engkau akan melihat-Ku, ketika engkau mengenal diri­mu sendiri, maka engkau akan mengenal-Ku. Ungkap­an, "Barangsiapa yang telah mengenal dirinya, maka dia telah mengenal Tuhan-nya," merupakan sebuah ungkapan yang amat populer di dunia Islam. Bahkan ung­kapan ini telah disebutkan pada masa sebelum Islam, Socrates juga pernah mengatakannya, di India pun banyak yang pernah mengucapkan ungkapan itu. Tetapi tidak ada satu penjelasan pun yang seindah penjelasati al-Quran. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as seringkali menyampaikan kalimat tersebut, dan Rasul mulia saw juga telah menyampaikannya, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki penjelasan yang lebih indah dari yang dijelaskan oleh al-Quran. Al-Quran dengan kefasihannya menunjukkan manusia kepada manusia itu sendiri, dengan cara memerintahkan manu­sia untuk melihat dirinya sendiri, dan begitu manusia telah melihat dirinya sendiri, seketika itu Allah ber­tanya, "Apakah sekarang engkau dapat melihat-Ku dengan baik?" Manusia menjawab, "Ya, sekarang kami dapat melihat-Mu dengan balk." Di sini al-Quran tidak mengatakan, "Barangsiapa yang telah mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhan-nya," yakni antara telah mengenal yang satu dengan telah mengenal yang lain sifatnya adalah berurutan; pertama mengenal diri sendiri, berikutnya adalah mengenal Tuhan.
Tetapi al-Quran hendak menyatakan bahwa sebegitu dekat­nya antara dua pengenalan itu, sehingga tatkala engkau melihat yang ini maka engkau pun akan melihat yang itu. Semua penjelasan yang diberikan oleh selain al-­Quran, senantiasa meletakkan dua pengenalan itu se­cara berurutan, sedangkan al-Quran menjelaskannya dengan menggunakan sebuah kalimat bahwa manusia cukup hanya dengan mengenal diri, karena jika telah mengenal diri maka pasti telah mengenal Tuhan. Sebegitu dekatnya antara pengenalan diri dengan pengenalan Tuhan, laksana seseorang yang memandang sebuah cermin. Sekalipun yang ada di dalam cermin itu hanya­lah semacam bayangan (gambar) saja, tetapi ketika Anda berada di depan sebuah cermin maka Anda tidak dapat menghindarkan diri untuk tidak melihat gambar Anda di cermin itu.
Tatkala seseorang memperhatikan dan merenung­kan poin al-Quran ini, pasti ia akan merasa kagum dan tercengang. Inilah ayat al-Quran. Coba Anda per­hatikan, Rasul saw adalah seorang bangsa Arab yang buta aksara, penduduk desa, tidak pernah belajar, tidak memiliki guru dan pengajar, orang terpandai yang ada dalam masyarakat itu tidak ubahnya semacam kelas tiga sekolah dasar yang ada pada masa kita ini, hanya mampu membaca satu baris tulisan dan tulisan tangan­nya tidak rapi serta tidak beraturan. Apakah dapat di­percaya bahwa berbagai ucapan yang indah dan mem­pesona yang keluar dari lisan laki-laki (Muhammad Saw) semacam itu, tanpa ada hubungan dengan alam metafisika (ma'nawi) atau alam yang lain? Bahkan orang-orang semacam Socrates sama sekali tidak akan mampu untuk mengeluarkan ucapan seindah itu. Ia (Muhammad Saw) memiliki bentuk pandangan yang begitu dalam dan luas.
Katakanlah:"Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi?" (Q.S. Yunus: 101). Perhatikanlah apa yang ada di berbagai langit dan di berbagai belahan bumi (tidak pada bumi saja), per­hatikanlah apa yang ada di seluruh alam ini! Ketahui­lah apa yang ada di seluruh penjuru alam ini! Dengan demikian maka al-Quran mengajak manusia pada epistemologi. Tidak ada lagi pembicaraan mengenai kemungkinan memperoleh epistemologi, artinya kemungkinan untuk memperoleh epistemologi adalah pasti.[]

Label: